Wahdan’s Weblog


Download Novel Ayat-ayat Cinta Gratis
Februari 23, 2008, 6:06 pm
Filed under: buku gratis

Ayat-ayat cinta adalah sebuah novel 411 halaman yang ditulis oleh seorang novelis muda Indonesia kelahiran 30 September 1976 yang bernama Habiburrahman El-Shirazy. Ia adalah seorang sarjana lulusan Mesir dan sekarang sudah kembali ke tanah air. Sepintas lalu, novel ini seperti novel-novel Islami kebanyakan yang mencoba menebarkan dakwah melalui sebuah karya seni, namun setelah ditelaah lebih lanjut ternyata novel ini merupakan gabungan dari novel Islami,
budaya dan juga novel cinta yang banyak disukai anak muda. Dengan kata lain, novel ini merupakan sarana yang tepat sebagai media penyaluran dakwah kepada siapa saja yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam, khususnya buat para kawula muda yang kelak akan menjadi penerus bangsa
Keprihatinan akan adanya sesuatu yang lebih baik menjadi motivasi tersendiri bagi saya untuk memberikan novel ini, karena realitas yang terjadi sekarang adalah bahwa banyak adegan percintaan dikalangan kita (anak muda) sudah jauh dari norma-norma yang berlaku di bumi nusantara ini. Maka dari itu, bukan berlagak sok pahlawan ataupun yang lainnya, cuma sekedar berbagi cerita tentang indahnya cinta ketika menemukan arti cinta yang sesungguhnya.
Anda-anda semua bisa mendownloadnya di blog ini secara gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun.

Download



PENGERTIAN DASAR BUDDHA DHARMA
Februari 22, 2008, 6:06 pm
Filed under: AGAMA

PENGERTIAN DASAR BUDDHA DHARMA
1. Tri Ratna

Seorang telah menjadi umat Buddha bila ia menerima dan mengucapkan
Tri Ratna (Skt) atau Tiga Mustika (Ind) yang berarti Buddha, Dharma,
Sangha.
Pada Saat sembahyang atau kebaktian di depan altar Hyang
Buddha. Tri Ratna secara lengkap diucapkan dengan tenang dan khusuk
sampai tiga kali atau disebut Trisarana. Trisarana adalah sebagai
berikut:

Bahasa Sansekerta :

Buddhang Saranang Gacchami
Dharmang Saranang Gacchami
Sanghang Saranang Gacchami

Dwipanang Buddhang Saranang Gacchami
Dwipanang Dharmang Saranang Gacchami
Dwipanang Sanghang Saranang Gacchami

Tripanang Buddhang Saranang Gacchami
Tripanang Dharmang Saranang Gacchami
Tripanang Sanghang Saranang Gacchami

Bahasa Indonesia :

Aku Berlindung kepada Buddha
Aku Berlindung kepada Dharma
Aku Berlindung kepada sangha

Kedua kali Aku Berlindung kepada Buddha
Kedua kali Aku Berlindung kepada Dharma
Kedua kali Aku Berlindung kepada sangha

Ketiga kali Aku Berlindung kepada Buddha
Ketiga kali Aku Berlindung kepada Dharma
Ketiga kali Aku Berlindung kepada sangha

1.1. Buddha

Berasal dari bahasa Sansekerta budh berarti menjadi sadar,
kesadaraan sepenuhnya; bijaksana, dikenal, diketahui, mengamati,
mematuhi. (Arthur Antony Macdonell, Practical Sanskrit Dictionary,
Oxford University Press, London, 1965).

Tegasnya, Buddha berarti seorang yang telah mencapai Penerangan atau
Pencerahan Sempurna dan Sadar akan Kebenaran Kosmos serta Alam
Semesta. “Hyang Buddha” adalah seorang yang telah mencapai Penerangan
Luhur, cakap dan bijak menuaikan karya-karya kebijakan dan memperoleh
Kebijaksanaan Kebenaraan mengenai Nirvana serta mengumumkan doktrin
sejati tentang kebebasan atau keselamatan kepada dunia semesta
sebelum parinirvana.

Hyang Buddha yang berdasarkan Sejarah bernama Shakyamuni pendiri
Agama buddha. Hyang Buddha yang berdasarkan waktu kosmik 1) ada
banyak sekali dimulai dari Dipankara Buddha.

1.2. Dharma

Hukum Kebenaran, Agama, hal, hal-hal apa saja yang berhubungan dengan
ajaran agama Buddha sebagai agama yang sempurna.

Dharma mengandung 4 (empat) makna utama :
1. Doktrin
2. Hak, keadilan, kebenaran
3. Kondisi
4. Barang yang kelihatan atau phenomena.

Buddha Dharma adalah suatu ajaran yang menguraikan hakekat kehidupan
berdasarkan Pandangan Terang yang dapat membebaskan manusia dari
kesesatan atau kegelapan batin dan penderitaan disebabkan
ketidakpuasan. Buddha Dharma meliputi unsur-unsur agama, kebaktian,
filosofi, psikologi, falsafah, kebatinan, metafisika, tata susila,
etika, dan sebagainya.

1.3. Sangha

Persaudaraan para bhiksu, bhiksuni (pada waktu permulaan terbentuk).
Kemudian, ketika agama Buddha Mahayana berkembang para anggotanya
selain para bhiksu, bhiksuni, dan juga para umat awam yang telah
upasaka dan upasika dengan bertekad pada kenyataan tidak-tanduknya
untuk menjadi seorang Bodhisattva, menerima dan mempraktekkan
Pancasila Buddhis ataukah Bodhisattva Sila.

Bhiksu (sebutan untuk lelaki) dan bhiksuni (sebutan untuk perempuan)
adalah seseorang yang kehidupanya sudah tidak lagi mencampuri urusan
duniawi, telah menjalankan kehidupan suci, dan patuh serta setia
menghayati dan mengamalkan Buddha Dharma



Kelahiran Sidharta Gautama
Februari 22, 2008, 6:05 pm
Filed under: AGAMA

Kelahiran Sidharta Gautama

Di Jambudvipa (sekarang India), dinegara Shakya di India Utara bernama kerajaan Kapilavastu, terletak di utara sungai Rapti (sungai rohini), di daerah dekat pegunungan Hilamaya, diperintah oleh seorang Raja bernama Suddhodana dengan permaisurinya Ratu Maya Dewi (Dewi Mahamaya).
Setelah duapuluh tahun perkawinan, mereka belum juga dikaruniai seorang Putra.

Pada suatu malam, Ratu Maya Dewi bermimpi aneh sekali.
Dalam mimpi itu, Ratu Maya Dewi melihat seekor gajah putih turun dari langit memiliki enam gading dan sekuntum bunga teratai di mulutnya memasuki rahim Ratu Maya Dewi melalui tubuhnya sebelah kanan.
Sejak mimpi itu Ratu Maya mengandung, Dia mengandung seorang bodhisattva dalam kandungannya selama sepuluh bulan.

Selama ia mengandung bodhisattva banyak kejadian ajaib terjadi.
Misalnya, di mana saja ia pergi di Kapilavastu didampingi suaminya, Raja Suddhodana, Singa duduk dengan jinaknya di depan gerbang-gerbang, gajah-gajah menghormati raja, burung-burung diangkasa sangat bersuka cita mengiringi mereka.
Ratu Maya dewi mendadak dapat mengobati orang sakit, banyak sekali orang sakit yang dapat diobati hingga sembuh. Dia sangat dermawan.
Para dewa tidak menampakkan diri mendampingi permaisuri kemana dia pergi.
Untuk tidak mengecewakan para dewa, Sang Bodhisattva membuat supaya Ratu Maya Dewi terlihat bersamaan di semua surga.
Bila waktu malam, dia, memasuki ruang kamar tidurnya, tiga kamarnya mendapat pantulan cahaya dari tubuh permaisuri secara merata. Dan masih banyak lagi kejadian yang menakjubkan semua perbuatannya penuh welas asih.

Ketika waktunya telah tiba untuk melahirkan, Ratu Maya pergi ke Taman Lumbini dengan para dayangnya. Ratu juga meminta suaminya, Raja Suddhodana, ikut.
Sudah tentu dipenuhi dengan segala senang hati.
Juga para dewa yang tidak menampakkan diri ikut mendampinginya. Di saat bulan purnama sidhi (menurut aliran Utara atau Mahayana, beliau lahir tanggal 8 bulan 4, lunar tahun 566 S.M.; menurut aliran Selatan atau Hinayana, tanggal 6 May, tahun 623 S.M.), di Taman Lumbini ini (dekat perbatasan India-Nepal), Ratu Maya melahirkan seorang bodhisattva tanpa kesulitan dan para dayang yang mendampingi Ratu, menyaksikan dengan penuh kesenangan. Begitu pula Raja Suddhodana dan para dewa dan dewi yang mendampingi ratu.

Saat ia dilahirkan, bumi menjadi terang benderang, seberkas sinar sangat terang mengelilingi bodhisattva yang baru lahir itu.
Sesaat ia dilahirkan, bodhisattva berjalan tujuh langkah dengan jari telunjuk tangan kanan menunjuk ke langit, dan jari telunjuk tangan kiri menunjuk ke bumi, yang artinya Akulah teragung, pemimpin alam semesta, guru para dewa dan manusia.
Para dewa yang mendampingi menjatuhkan bunga dan air suci untuk memandikannya.
Pada saat ia akan menapakkan kakinya ke bumi, timbullah seketika itu tujuh kuntum bunga padma yang besar dibawah setiap langkahnya.
Setiap ia melangkah ia menghadap ke sepuluh penjuru. Juga bersamaan waktu lahirnya, tumbuhlah pohon Bodhi.

Seisi alam menyambutnya dengan suka cita karena telah lahir seorang bodhisattva yang pada nantinya dia akan menjadi pemimpin alam semesta, gurunya para dewa dan manusia, mencapai Samyak Sam Buddha untuk mengakhiri penderitaan manusia di alam samsara ini.



Bahasa Dosa (Lughatul Khati’ah)
Februari 21, 2008, 3:09 pm
Filed under: budaya

Adonis

Bahasa Dosa (Lughatul Khati’ah)


Aku bakar seluruh warisanku

kukatakan: bumiku

masih perawan, tak ada makam di masa mudaku
aku melintas di atas Allah dan setan
jalurku lebih jauh dari jalur
tuhan dan setan


Aku menyebrang melalui kitabku
beriringan dengan badai yang terang benderang
beriringan dengan badai yang hijau kemilau

Aku berseru: tak ada lagi Sorga, tak ada Kejatuhan setelahku
kuhapus bahasa dosa

Terjemahan: Mohamad Guntur Romli



Air Bersih: Sumber Daya yang Rawan
Februari 6, 2008, 4:22 am
Filed under: lingkungan

Green Papers SeriesSumber Daya yang Rawan

Oleh Richard Middleton

Daftar Isi

*Ketersediaan dan Kelangkaan Air
*
Penggunaan — dan Penyalahgunaan — Sumber Air
Keuntungan-keuntungan Konservasi di Boston, Massachusetts
*
Bergerak ke Depan
Penyediaan Air Alternatif yang dikelola oleh Masyarakat di Tegucigalpa, Honduras
Sanitasi di tempat (On-site Sanitation) untuk Abad ke-20: VIP dan PF
*
Contoh-contoh Praktis
Pengolahan Limbah yang Menghasilkan: Budidaya Air dengan Rumput Bebek
*
Pengumpulan Sanitasi
*
Kesimpulan
Daftar Pustaka
Kontak

Air merupakan unsur utama bagi hidup kita di planet ini. Kita mampu bertahan hidup tanpa makan dalam beberapa minggu, namun tanpa air kita akan mati dalam beberapa hari saja. Dalam bidang kehidupan ekonomi modern kita, air juga merupakan hal utama untuk budidaya pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik, dan transportasi.

Semua orang berharap bahwa seharusnya air diperlakukan sebagai bahan yang sangat bernilai, dimanfaatkan secara bijak, dan dijaga terhadap cemaran. Namun kenyataannya air selalu dihamburkan, dicemari, dan disia-siakan. Hampir separo penduduk dunia, hampir seluruhnya di negara-negara berkembang, menderita berbagai penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan air, atau oleh air yang tercemar. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, 2 miliar orang kini menyandang risiko menderita penyakit murus yang disebabkan oleh air dan makanan. Penyakit ini merupakan penyebab utama kematian lebih dari 5 juta anak-anak setiap tahun.

Sumber-sumber air semakin dicemari oleh limbah industri yang tidak diolah atau tercemar karena penggunaanya yang melebihi kapasitasnya untuk dapat diperbaharui. Kalau kita tidak mengadakan perubahan radikal dalam cara kita memanfaatkan air, mungkin saja suatu ketika air tidak lagi dapat digunakan tanpa pengolahan khusus yang biayanya melewati jangkauan sumber daya ekonomi bagi kebanyakan negara.

Banyak orang memang memahami masalah-masalah pencemaran dan lingkungan yang biasanya merupakan akibat perindustrian, tetapi tetap saja tidak menyadari implikasi penting yang dapat terjadi. Sebagian besar penduduk bumi berada di negara-negara berkembang; kalau orang-orang ini harus mendapatkan sumber air yang layak, dan kalau mereka menginginkan ekonomi mereka berkembang dan berindustrialisasi, maka masalah-masalah yang kini ada harus disembuhkan. Namun bagaimanapun masalah persediaan air tidak dapat ditangani secara terpisah dari masalah lain. Buangan air yang tak layak dapat mencemari sumber air, dan sering kali tak teratasi. Ketidaksempurnaan dalam layanan pokok sistem saluran hujan yang kurang baik, pembuangan limbah padat yang jelek juga dapat menyebabkan hidup orang sengsara. Oleh karena itu, meskipun makalah ini memusatkan diri terutama pada air dan sanitasi, dalam jangka panjang akan sangat penting memikirkannya dari segi pengintegrasian layanan-layanan lingkungan ke dalam suatu paket pengelolaan air, sanitasi, saluran, dan limbah padat yang komprehensif.

***Ketersediaan dan Kelangkaan Air

Air merupakan elemen yang paling melimpah di atas Bumi, yang meliputi 70% permukaannya dan berjumlah kira-kira 1,4 ribu juta kilometer kubik. Apabila dituang merata di seluruh permukaan bumi akan terbentuk lapisan dengan kedalaman rata-rata 3 kilometer. Namun hanya sebagian kecil saja dari jumlah ini yang benar-benar dimanfaatkan, yaitu kira-kira hanya 0,003%. Sebagian besar air, kira-kira 97%, ada dalam samudera atau laut, dan kadar garamnya terlalu tinggi untuk kebanyakan keperluan. Dari 3% sisanya yang ada, hampir semuanya, kira-kira 87 persennya,tersimpan dalam lapisan kutub atau sangat dalam di bawah tanah.

Dalam satu tahun, rata-rata jumlah tersebut tersisa lebih dari 40.000 kilometer kubik air segar yang dapat diperoleh dari sungai-sungai di dunia. Bandingkan dengan jumlah penyedotan yang kini hanya ada sedikit di atas 3.000 kilometer kubik tiap tahun. Ketersediaan ini (sepadan dengan lebih dari 7.000 meter kubik untuk setiap orang) sepintas kelihatannya cukup untuk menjamin persediaan yang cukup bagi setiap penduduk, tetapi kenyataannya air tersebut seringkali tersedia di tempat-tempat yang tidak tepat. Misalnya, lembah sungai Amazon memiliki sumber yang cukup tetapi mengekspor air dari sini ke tempat-tempat yang memerlukan adalah tidak ekonomis.

Selain itu, angka curah hujan sering sangat kurang dapat dipercaya, sehingga persediaan air yang nyata sering jauh di bawah angka rata-rata yang ditunjukkan. Pada musim penghujan, hujan sangat hebat, namun biasanya hanya terjadi beberapa bulan setiap tahun; bendungan dan tandon air yang mahal diperlukan untuk menyimpan air untuk bulan-bulan musim kering dan untuk menekan kerusakan musibah banjir. Bahkan di kawasan-kawasan “basah” ini angka yang turun-naik dari tahun ke tahun dapat mengurangi persediaan air yang akan terasa secara nyata. Sedangkan di kawasan kering seperti Sahel di Afrika, masa kekeringan yang berkepanjangan dapat berakibat kegagalan panen, kematian ternak dan merajalelanya kesengsaraan dan kelaparan.

Pembagian dan pemanfaatan air selalu merupakan isu yang menyebabkan pertengkaran, dan sering juga emosi. Keributan masalah air bisa terjadi dalam suatu negara, kawasan, ataupun berdampak ke benua luas. Di Afrika, misalnya, lebih dari 57 sungai besar atau lembah danau digunakan bersama oleh dua negara atau lebih; Sungai Nil oleh sembilan, dan Sungai Niger oleh 10 negara. Sedangkan di seluruh dunia, lebih dari 200 sungai, yang meliputi lebih dari separo permukaan bumi, digunakan bersama oleh dua negara atau lebih. Selain itu, banyak lapisan sumber air bawah tanah membentang melintasi batas-batas negara, dan penyedotan oleh suatu negara dapat menyebabkan ketegangan politik dengan negara tetangganya.

Karena air yang dapat diperoleh dan bermutu bagus semakin langka, maka percekcokan dapat semakin memanas. Di seluruh dunia, kira-kira 20 negara, hampir semuanya di kawasan negara berkembang, memiliki sumber air yang dapat diperbarui hanya di bawah 1.000 meter kubik untuk setiap orang, suatu tingkat yang biasanya dianggap kendala yang sangat mengkhawatirkan bagi pembangunan, dan 18 negara lainnya memiliki di bawah 2.000 meter kubik untuk tiap orang.

Lebih parah lagi, penduduk dunia yang kini berjumlah 5,3 miliar mungkin akan meningkat menjadi 8,5 miliar pada tahun 2025. Beberapa ahli memperkirakan bahwa tingkat itu akan menjadi stabil pada angka 16 miliar orang. Apapun angka terakhirnya, yang jelas ialah bahwa tekanan yang sangat berat akan diderita oleh sumber-sumber bumi yang terbatas. Dan laju angka kelahiran yang tertinggi justru terjadi tepat di daerah yang sumber-sumber airnya mengalami tekanan paling berat, yaitu di negara-negara berkembang.

Dalam tahun-tahun belakangan ini, sebagian besar angka pertumbuhan penduduk terpusat pada kawasan perkotaan. Pertumbuhan penduduk secara menyeluruh di negara-negara berkembang kira-kira 2,1 persen setahun, tetapi di kawasan perkotaan lebih dari 3,5%. Daerah kumuh perkotaan atau hunian yang lebih padat di kota yang menyedot pemukim baru termiskin tumbuh dengan laju sekitar 7% setahun.

Hunian pinggiran yang lebih padat sering dibangun secara membahayakan di atas tanah yang tak dapat digunakan untuk apapun, seperti bukit-bukit terjal yang labil atau daerah-daerah rendah yang rawan banjir. Kawasan semacam itu tidak sesuai dengan perencanaan kota yang manapun, dipandang dari segi tata-letak ataupun kebakuan. Karena kawasan semacam itu dianggap sah secara hukum dan bersifat “darurat”, pemerintah kota biasanya tidak cepat melengkapinya dengan prasarana seperti jalan, gedung sekolah, klinik kesehatan, pasokan air, dan sanitasi. Namun sebenarnya hunian semacam ini tak pelak akan menjadi pola bagi kota yang harus dilayani dengan prasarana modern; hal ini mempunyai implikasi-implikasi baik untuk pemecahan secara teknis maupun secara lembaga yang akan diperlukan sebagai syarat supaya segala layanan mencapai semua orang dan berkesinambungan.

Di sementara negara, masalah terbesar mengenai persediaan air berkembang bukan hanya dari masalah kelangkaan air dibanding dengan jumlah penduduk, melainkan dari kekeliruan menentukan kebijakan tentang air, dan baru menyadari masalah-masalah tersebut lama setelah akibat yang tak dikehendaki menjadi kenyataan. Jadi meskipun penambahan investasi dalam sektor ini diperlukan, penambahan itu perlu disertai dengan perubahan: Prioritas utama haruslah pada cara pemanfaatan paling bijak terhadap investasi besar yang telah ditanam dalam sektor ini setiap tahun.

Penggunaan — dan Penyalahgunaan — Sumber Air | Daftar Isi

 
 
     
* * *   Seri Makalah Hijau
Redaktur: Rick Marshall, Kathleen E. Hug
Penerjemah: Tim Penerjemah IKIP Malang


Mutu Udara Kota
Februari 6, 2008, 4:11 am
Filed under: lingkungan

Mutu Udara Kota

Daftar Isi

*Keberhasilan yang tidak Tampak
Sumber Pencemaran Udara
Bahan Pencemaran Udara Khusus
*Program Pengendalian Polusi
*Cara Lain Menangani Polusi Akibat Kendaraan Bermotor
Pengelolaan Permintaan
*Kesimpulan
Kamus Istilah
Daftar Pustaka

Hampir tidak ada kota di dunia ini yang dapat menghindar dari bencana modern pencemaran udara. Bahkan kota-kota yang dulu terkenal dengan udaranya yang murni, tak tercemar misalnya Buenos Aires, Denver, dan Madrid sekarang selalu dikepung oleh udara yang begitu tercemarnya sehingga dapat membunuh dan membuat orang baik yang sehat maupun sakit masuk rumah sakit. Tapi hal itu tak perlu terjadi, karena kota-kota dan bangsa-bangsa di seluruh dunia mulai menerapkan berbagai strategi yang dapat mengatasi masalah pencemaran udara dengan baik. Strateg itu mulai dari larangan parkir dan hari tanpa mengemudi sampai program ketat dan berkekuatan hukum untuk memasang kendali pencemaran yang canggih di pusat-pusat pembangkit tenaga. Hanya sedikit usaha ini yang mencapai keberhasilan sempurna, tetapi banyak juga yang cukup berhasil bahkan begitu berhasilnya sampai terkadang tidak mendapat perhatian.

Keberhasilan yang tidak Tampak

Di Amerika, misalnya, para pengemudi telah meninggalkan bensin yang mengandung timah penyebab kebanyakan polusi udara bermuatan timah begitu sempurnanya mereka menjauhi bensin itu sehingga sebagian besar pompa bensin tidak lagi menjualnya. Karena timah hampir hilang sebagai zat aditif bensin di Amerika Serikat, maka konsentrasi rata-rata zat ini dalam darah anak-anak menurun hampir setengahnya. Walaupun para pembuat bensin bermuatan timah dan zat aditif timah memperingatkan bahwa harga bahan bakar akan meningkat dan persediaan berkurang, ternyata kedua hal tersebut tidak terjadi. Para pengemudi di Amerika Serikat sekarang hampir tidak merasakan tiadanya zat bahan bakar beracun ini, walaupun mereka tahu zat tersebut pernah ada. Penurunan tingkat konsentrasi timah di atmosfer merupakan “suatu keberhasilan lingkungan terbesar”, kata Michael Walsh, seorang konsultan pemerintah Cina, Swedia, Swis dan negara-negara lain.

Sesungguhnyalah, menghilangnya bensin bermuatan timah telah membantu lahirnya suatu generasi baru bahan bakar berwawasan lingkungan yang lebih bersih lagi di pasaran. Bensin jenis-jenis baru ini telah diformulasi ulang untuk menghilangkan sampai 90% zat benzene dan kandungan yang beracun lainnya, sehingga tingkat pencemaran udara di banyak kota di AS menurun sampai 15 persen dalam kurun waktu satu tahun setelah diberlakukan penjualan yang dianjurkan. Tapi keberhasilan ini tidak terbatas pada program-program penggantian jenis bahan bakar saja.

Di Jepang, teknologi pengurangan polusi seperti “penggosok”cerobong asap yaitu perangkat yang dapat menghilangkan sampai 95% pencemaran gas sulfur dari gas cerobong asap dipasang pada pembangkit tenaga listrik di seluruh negeri. Perangkat ini mengurangi pengeluaran sulfur dioksida suatu polutan yang tercipta ketika terjadi pembakaran bahan bakar yang mengandung sulfur seperti batubara dan minyak sampai hampir 40 persen antara tahun 1974 dan 1983, walaupun pada saat itu terjadi peningkatan ekonomi yang tajam. Di Prancis, emisi sulfur dioksida secara nasional turun sampai kira-kira 75 persen setelah jenis-jenis bahan bakar itu digantikan oleh tenaga nuklir.

Tentu saja tidak semua negara mau menggunakan pembangkit tenaga nuklir, seperti juga banyak negara tidak mau menambahkan pemasangan perangkat pengendali polusi. Apa yang sesuai bagi satu kota atau negara mungkin tidak sesuai bagi yang lain. Walaupun demikian, semakin lama semakin beragam jalan keluar yang tersedia bagi bermacam-macam masalah, yang berhasil baik di bidang-bidang tertentu, walau tidak semua.

Sumber Pencemaran Udara

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa 70 persen penduduk kota di dunia pernah sesekali menghirup udara yang tidak sehat, sedangkan 10 persen lain menghirup udara yang bersifat “marjinal”. Tetapi bahkan di AS, yang tingkat pencemaran udaranya cenderung jauh lebih rendah daripada di kota-kota di negara berkembang, studi oleh para peneliti di Universitas Harvard menunjukkan bahwa kematian akibat pencemaran udara berjumlah antara 50.000 dan 100.000 per tahun.

Pencemaran lebih mempengaruhi anak-anak daripada orang dewasa, dan anak-anak miskin yang terpajan pada lebih banyak jenis polutan dan tingkat pencemaran yang lebih tinggi adalah yang paling terpengaruh. Studi telah membuktikan bahwa anak-anak yang tinggal di kota dengan tingkat pencemaran udara lebih tinggi mempunyai paru-paru lebih kecil, lebih sering tidak bersekolah karena sakit, dan lebih sering dirawat di rumah sakit. Rendahnya berat badan anak-anak dan kecilnya organ-organ pertumbuhan mereka memberi risiko yang lebih tinggi pula bagi mereka. Demikian pula kebiasaan mereka; bayi menghisap sembarang benda yang tercemar, anak-anak yang lebih besar bermain-main di jalanan yang dipenuhi asap kendaraan dan buangan hasil pembakaran bermuatan timah.

Pada 1980, misalnya, kota industri Cubatao, Brasilia, melaporkan bahwa sebagai akibat pencemaran udara, 40 dari setiap 1000 bayi yang lahir di kota itu meninggal saat dilahirkan, 40 yang lain kebanyakan cacat, meninggal pada minggu pertama hidupnya. Pada tahun yang sama, dengan 80.000 penduduk,Cubatao mengalami sekitar 10.000 kasus medis darurat yang meliputi TBC, pneumonia, bronkitis, emphysema, asma, dan penyakit-penyakit pernapasan lain.

Di kota metropolitan Athena, Yunani, tingkat kematian melonjak 500 persen di hari-hari yang paling tercemari. Bahkan di daerah-daerah yang jauh dari fasilitas industri, pencemaran udara juga dapat menyebabkan kerusakan. Di daerah-daerah hutan tropis di Afrika, misalnya, para ilmuwan melaporkan adanya tingkat hujan asam dan kabut asap yang sama tingginya dengan di Eropa Tengah, kemungkinan karena pembakaran rutin padang rumput untuk melapangkan tanah.

Contoh-contoh nyata seperti ini telah mempercepat usaha di seluruh dunia untuk mengatasi pencemaran udara perkotaan.

Bahan Pencemar Udara Khusus

Sejak tahun 1970-an, kebijakan pencemaran udara AS cenderung berpusat pada pengendalian beberapa jenis polutan perkotaan yang serius: partikulat zat yang mengandung partikel (asap dan jelaga), hidrokarbon, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon (asap kabut fotokimiawi), karbon monoksida dan timah.

Karbon monoksida. WHO telah membuktikan bahwa karbon monoksida yang secara rutin mencapai tingkat tak sehat di banyak kota dapat mengakibatkan kecilnya berat badan janin, meningkatnya kematian bayi dan kerusakan otak, bergantung pada lamanya seorang wanita hamil terpajan, dan bergantung pada kekentalan polutan di udara.

Asap kendaraan merupakan sumber hampir seluruh karbon monoksida yang dikeluarkan di banyak daerah perkotaan. Karena itu strategi penurunan kadar karbon monoksida yang berhasil bergantung terutama pada pengendalian emisi otomatis seperti pengubah kalitis, yang mengubah sebagian besar karbon monoksida menjadi karbon dioksida. Kendali semacam itu secara nyata telah menurunkan emisi dan kadar konsentrasi karbon monoksida yang menyelimuti kota-kota di seluruh dunia industri: di Jepang, tingkat kadar karbon monoksida di udara menurun sampai 50 persen antara tahun 1973 dan 1984, sementara di AS tingkat karbon monoksida turun 28 persen antara tahun 1980 dan 1989, walaupun terdapat kenaikan 39 persen untuk jarak kilometer yang ditempuh. Namun kebanyakan dunia negara berkembang mengalami kenaikan tingkat karbon monoksida, seiring dengan pertambahan jumlah kendaraan dan kepadatan lalu lintas. Perkiraan kasar dari WHO menunjukkan bahwa konsentrasi karbon monoksida yang tidak sehat mungkin terdapat pada paling tidak separo kota di dunia.

Nitrogen Oksida. Nitrogen oksida yang terjadi ketika panas pembakaran menyebabkan bersatunya oksigen dan nitrogen yang terdapat di udara memberikan berbagai ancaman bahaya. Zat nitrogen oksida ini sendiri menyebabkan kerusakan paru-paru. Setelah bereaksi di atmosfer, zat ini membentuk partikel-partikel nitrat amat halus yang menembus bagian terdalam paru-paru. Partikel-partikel nitrat ini pula, jika bergabung dengan air baik air di paru-paru atau uap air di awan akan membentuk asam. Akhirnya zat-zat oksida ini bereaksi dengan asap bensin yang tidak terbakar dan zat-zat hidrokarbon lain di sinar matahari dan membentuk ozon rendah atau “smog” kabut berwarna coklat kemerahan yang menyelimuti sebagian besar kota di dunia.

Sulfur Dioksida. Emisi sulfur dioksida terutama timbul dari pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung sulfur terutama batubara yang digunakan untuk pembangkit tenaga listrik atau pemanasan rumah tangga. Sistem pemantauan lingkungan global yang disponsori PBB memperkirakan bahwa pada 1987 dua pertiga penduduk kota hidup di kota-kota yang konsentrasi sulfur dioksida di udara sekitarnya di atas atau tepat pada ambang batas yang ditetapkan WHO. Gas yang berbau tajam tapi tak bewarna ini dapat menimbulkan serangan asma dan, karena gas ini menetap di udara, bereaksi dan membentuk partikel-partikel halus dan zat asam.

Benda Partikulat. Zat ini sering disebut sebagai asap atau jelaga; benda-benda partikulat ini sering merupakan pencemar udara yang paling kentara, dan biasanya juga paling berbahaya. Sistem Pemantauan Lingkungan global yang disponsori PBB memperkirakan pada 1987 bahwa 70 persen penduduk kota di dunia hidup di kota-kota dengan partikel yang mengambang di udara melebihi ambang batas yang ditetapkan WHO.

Sebagian benda partikulat keluar dari cerobong pabrik sebagai asap hitam tebal, tetapi yang paling berbahaya adalah “partikel-partikel halus” butiran-butiran yang begitu kecil sehingga dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Sebagian besar partikel halus ini terbentuk dengan polutan lain, terutama sulfur dioksida dan oksida nitrogen, dan secara kimiawi berubah dan membentuk zat-zat nitrat dan sulfat. Di beberapa kota, sampai separo jumlah benda partikulat yang disebabkan ulah manusia terbentuk dari perubahan sulfur dioksida menjadi partikel sulfat di atmosfer. Di kota-kota lain, zat-zat nitrat yang terbentuk dari proses yang sama dari oksida-oksida nitrogen dapat membentuk sepertiga atau lebih benda partikulat.

REVOLUSI PENGENDALIAN EMISI

Dua pulah tahun yang lalu alat konversi berkatalis belum ada di pasaran. Bahkan saat pertama kali para pemimpin di A.S. mengusulkan standar emisi yang menyebabkan kemajuan mereka, president General Motor, pembnat kendaraan bermotor terbesar di dunia, berkata, “Sepanjang pengetahuan kami, tujuan ini secara teknologis tidak bakal tercapai.” Namun sejak akhir tahun 1980-an, boleh dikata setiap sedan, mobil wagon, pikup, dan trak baru yang terjual di A.S. dilengkapi dengan alat konversi berkatalis, sehingga pengurangan emisi senyawa-senyawa organik dan karbon monoksida yang mudah menguap sampai 85 persen, dan oksida nitrogen sampai 60 persen dari umur mobil menjadi mungkin.

Pemakaian secara luas pengendalian emisi yang canggih itu untuk mobil dan truk pada 1980-an dimulai oleh Amerika Serikat dan Jepang sendiri sebagai dua negara yang mempunyai program pengendalian polusi paling maju untuk mobil. Namun pada 1993, terjadi pembalikan 180 derajat; setiap kelompok besar negara (meskipun tidak setiap negara dalam kelompok itu) telah menerapkan pengendalian atas knalpot termasuk beberapa negara bekas UniSoviet.

Perkembangan pesat alat pengendali model A.S. dimulai di Eropa Barat ketika Jerman, Swis, Austria dan Swedia cemas melihat meningkatnya kerusakan lingkungan akibat polusi udara. Jerman mulai mengusulkan diterapkannya standar yang lebih ketat di Pasar Bersama Eropa, sedang ketiga negara lainnya—semua bukan anggota Masyarakat Ekonomi Eropa—menegaskan bahwa mereka akan secara sepihak menetapkan pengendalian polusi dengan katalis. Gabungan tekanan dari dalam dan luar negeri memuncak pada suatu keputusan tahun 1989 yang mewajibkan pemakaian standar A.S. pada semua mobil di Pasar Bersama, dimulai dengan mobil model tahun 1992.

Perubahan ini tidak terjadi begitu saja, karena pada 1988 jumlah mobil di selurah dunia pertama kali melampaui 400 juta dalam sejarah. Sementara pertumbuhan terjadi paling pesat di berbagai kawasan Asia yang mulai berindustrializasi, target penjualan mobil baru juga sudah ditetaplan, bahkan di kawasan yang sudah sangat maju seperti Eropa Barat. Termasuk kendaraan niaga, jumlah kendaraan di jalan-jalan mencapai 500 juta pada 1989—peningkatan sepuluh kali lipat sejak 1950.

Tampaknya tidak ada tanda-tanda akan berakhirnya pertumbuhan luar biasa pada jumlah sedan dan truk. Penduduk dunia diperkirakan akan berlipat dua pada tahun 2000 dibandingkan tahun 1960, didorong oleh peningkatan lipat dua di Asia dan 150 persen di Amerika Latin.

Sementara polusi udara makin merajalela di kota-kota besar negara berkembang, negara seperti Meksiko, Brasil dan Taiwan sudah meneraphan pengendali polusi berkatalis. Maka pada akhir dasawarsa ini, negara-negara di seluruh dunia sudah akan menerapkannya pula: Jepang, Taiwan dan Korea Selatan di Asia; Brasil di Amerika Selatan; dan negara-negara Pasar Bersama plus Austria, Swedia, Swis di Eropa Barat. Sekarang, empat dari setiap lima mobil baru memenahi standar berdasarkan katalis modern atau sejenisnya.

Sementara itu, di California, setelah dengar pendapat berlarut-larut, pemerintah negara bagian pada 1991 menetaplan suatu persyaratan penjualan “Kendaraan Beremisi Nol ” (ZEV) dimulai dengan model tahun 1989.

ZEVsekedar suatu bagian dari suatu matriks rumit standar-standar yang makin ketat yang akan diterapkan secara bertahap. ZEV pertama harus sudah beredar di jalan pada 1998, yang jumlahnya harus mencapai 2 persen dari penjualan mobil baru, meningkat menjadi 10 persen pada tahun 2003. Gerakan untuk mencegah polusi dari mesin diesel, yang tanpa pengendali emisi akan memancarkan 30 sampai 70 kali benda partikulat dibanding mesin bensin yang dilengkapi alat konversi berkatalis, juga sudah mulai mendapat momentum.

Sampai belakangan ini, mesin diesel boleh dikata tidak diatur di seluruh dunia, tapi standar baru yang dipakai di A.S. dan Eropa telah merangsang perkembangan teknologi yang menjanjikan peningkatan perbaikan emisi diesel secara besar-besaran. Perangkap, atau alat untuk menangkap jelaga diesel untuk dihancurkan, telah dikembangkan, begitu juga alat konversi berkatalis yang sudah dimodifikasi secara khusus. Di Jepang, pemerintah tengah mengatur bahan bakar serta mesin, menerapkan apa yang selama ini digambarkan sebagai persyaratan mutu bahan bakar terketat di dunia.

Hanya standar yang makin ketat saja yang memungkinkan polusi mobil dapat dikendalikan karena jumlah kendaraan di jalan-jalan—dan paling penting panjang jarak yang ditempah—meningkat pesat. Bagaimana nantinya masih belum jelas. Tak pelak emisi knalpot harus mulai mendekati nol atau pertumbuhan harus dikendalikan, atau kedua-keduanya, jika kota-kota besar ingin mempunyai udara yang sehat untuk dihirup.

Hidrokarbon. Zat ini kadang-kadang disebut sebagai senyawa organik yang mudah menguap (“volatile organic compounds/VOC”), dan juga sebagai gas organic reaktif (“reactive organic gases/ROG”). Hidrokarbon merupakan uap bensin yang tidak terbakar dan produk samping dari pembakaran tak sempurna. Jenis-jenis hidrokarbon lain, yang sebagian menyebabkan leukemia, kanker, atau penyakit-penyakit serius lain, berbentuk cairan untuk cuci-kering pakaian sampai zat penghilang lemak untuk industri.

Laju Pelaksanaan untuk Kendaraan Beremisi Nol atau Mendekati Nol (TLEV, LEV, ULEV dan ZEV)

Bagan di bawah menunjukkan laju yang harus diterapkan pabrik mobil dalam memulai penjualan kendaraan baru yang kurang berpolusi sebagaimana disyaratkan oleh California dengan menggunakan emisi hidrokarbon sebagai contoh. Misalnya, pada 1998; 48 persen penjualan mobil baru harus memenuhi suatu batas emisi sebesar 0,25 gram per kilometer; 48 persen lagi harus memenuhi standar kendaraan beremisi rendah (LEV) setinggi 0,075 gram per kilometer; 2 persen harus memenuhi standar kendaraan beremisi ultra rendah (ULEV) setinggi 0,040; dan 2 persen lagi harus berupa kendaraan beremisi nol (ZEV). Rata-rata bagi semua mobil adalah 0,115 gram per kilometer.

Model
Tahun

0,39

0,25
TLEV
0,125
LEV
0,075
ULEV
0,040
ZEV
0,00
Standar
Rata-Rata
Mobil
1994 10% 80% 10%       0,250
1995   85% 15%       0,231
1996   89% 20%       0,225
1997   73%   2% 25%   0,202
1998   48%   2% 48% 2% 0,157
1999   23%   2% 73% 2% 0,113
2000       2% 96% 2% 0,073
2001       5% 90% 5% 0,070
2002       10% 85% 5% 0,068
2003       15% 75% 10% 0,062

Ozon atau Asap Kabut Fotokimiawi. Ozon, terdiri dari beratus-ratus zat kimiawi yang terdapat dalam asap kabut, terbentuk ketika hidrokarbon pekat di perkotaan bereaksi dengan oksida nitrogen. Tetapi, karena salah satu zat kimiawi itu, yaitu ozon, adalah yang paling dominan, pemerintah menggunakannya sebagai tolok ukur untuk menetapkan konsentrasi oksidan secara umum. Ozon merupakan zat oksidan yang begitu kuat (selain klor) sehingga beberapa kota menggunakannya sebagai disinfektan pasokan air minum. Banyak ilmuwan menganggapnya sebagai polutan udara yang paling beracun; begitu berbahayanya sehingga pada eksperimen laboratorium untuk menguji dampak ozon, satu dari setiap sepuluh sukarelawan harus dipindahkan dari bilik pajanan yang digunakan dalam eksperimen itu karena gangguan pernapasan. Pada hewan percobaan laboratorium, ozon menyebabkan luka dan kerusakan sel yang mirip dengan yang diderita para perokok. Karena emisi oksida nitrogen dan hidrokarbon semakin meningkat, tingkat ozon bahkan di pedesaan telah berlipat dua, dan kini mendekati tingkat membahayakan bagi banyak spesies.

Timah. Logam berwarna kelabu keperakan yang amat beracun dalam setiap bentuknya ini merupakan ancaman yang amat berbahaya bagi anak di bawah usia 6 tahun, yang biasanya mereka telan dalam bentuk serpihan cat pada dinding rumah. Logam berat ini merusak kecerdasan, menghambat pertumbuhan, mengurangi kemampuan untuk mendengar dan memahami bahasa, dan menghilangkan konsentrasi. Bahkan pajanan dengan tingkat yang amat rendah sekalipun tampaknya selalu diasosiasikan dengan rendahnya kecerdasan. Karena sumber utama timah adalah asap kendaraan berbahan bakar bensin yang mengandung timah, maka polutan ini dapat ditemui di mana ada mobil, truk, dan bus. Bahkan di negara-negara yang telah berhasil menghapuskan penggunaan bensin yang mengandung timah, debu di udara tetap tercemar karena penggunaan bahan bakar ini selama puluhan tahun. Di Kota Meksiko City, misalnya, tujuh dari 10 bayi yang baru lahir memiliki kadar timah dalam darah lebih tinggi daripada standar yang diizinkan WHO.

Di samping timah, banyak sekali zat beracun lain menambah beban kandungan polutan di daerah perkotaan. Zat-zat ini mulai dari asbes dan logam berat (seperti kadmium, arsenik, mangan, nikel dan zink) sampai bermacam-macam senyawa organik (seperti benzene dan hidrokarbon lain dan aldehida). Perusahaan-perusahaan di AS mengeluarkan sedikitnya 1,2 juta metrik ton zat beracun ke udara pada tahun 1987. Badan Perlindungan Lingkungan AS memperkirakan bahwa pajanan terhadap polutan-polutan tersebut mengakibatkan antara 1.700 sampai 2.700 jenis kanker per tahun.

Program Pengendalian Polusi | Daftar Isi

 
 
     
***   Seri Makalah Hijau
Redaktur: Howard Cincotta
Penerjemah: Tim Penerjemah IKIP Malang


Revolusi Hijau:
Februari 6, 2008, 4:09 am
Filed under: lingkungan
   
 

Revolusi Hijau:
Sebuah Tinjauan Historis-Kritis Gerakan Lingkungan Hidup di Amerika Serikat
(The Green Revolution, The American Environmental Movement, 1962-1992)

oleh Kirkpatrick Sale
Kata Pengantar: Koesnadi Hardjasoemantri

Bab 1
Asal Muasal

Pada akhir musim panas tahun 1962, seorang ahli biologi kelautan bernama Rachel Carson, yang pada waktu itu buku-bukunya tentang kehidupan laut masuk kategori sangat laris, menyuarakan peringatan ini kepada dunia:

Ketika manusia beranjak maju guna mencapai tujuannya yakni menaklukkan alam, ia telah menoreh catatan-catatan mengenai kerusakan mengerikan yang mengarah bukan saja pada bumi tempat ia tinggal, tapi juga pada sesama makhluk hidup lainnya. Sejarah abad-abad belakangan ini, memiliki lembaran-lembaran gelap—pembantaian bison besar-besaran di wilayah barat Amerika, pembunuhan dalam jumlah besar burung-pantai oleh para pemburu lantaran permintaan pasar, dan hampir punahnya jenis-jenis burung tertentu yang diburu karena bulunya yang indah. Saat ini, kepada pelbagai jenis hewan langka seperti itu, kita menambahi lagi sebuah babak baru yakni cara pemusnahan jenis baru—pembunuhan secara langsung burung-burung, binatang mamalia, ikan-ikan, dan semua jenis hewan liar dengan penyemprotan bahan kimia secara serampangan pada permukaan tanah
.…Pertanyaan kita adalah: apakah ada peradaban yang dapat melancarkan perang semacam itu terhadap kehidupan tanpa menghancurkan dirinya sendiri, dan tanpa kehilangan hak untuk disebut beradab?

Dengan ungkapan kemarahan dan tanpa kompromi seperti di atas, dapat dikatakan bahwa gerakan lingkungan modern dimulai.

Buku Silent Spring* sangat menonjol dan didaftar sebagai salah satu buku paling laris oleh harian The New York Times selama 31 minggu dan terjual sebanyak lebih dari 500.000 copy. Sesuatu fenomena yang sangat jarang bagi sebuah buku non-fiksi yang serius. Kutukannya yang keras dan tuntas terhadap industri pestisida Amerika, terutama kasusnya yang mengejutkan melawan DDT, mencapai sebuah rekor—yang memang telah menanti untuk dicapai — dengan jelas menguraikan semakin meningkatnya kecemasan terhadap teknologi pasca-perang dunia dan juga semakin tingginya kesadaran akan pentingnya kenyamanan-kenyamanan non-materi dalam kehidupan. Segera buku itu mendapat serangan balik dari dunia industri, khususnya industri kimia yang sampai mengeluarkan dana kampanye sebesar US$ 250.000 untuk membuktikan bahwa Carson adalah “seorang histeris yang dungu”. Namun sebaliknya buku tersebut bahkan memperoleh penghargaan dari National Wildlife Federation dan Audubon Society, karena itu malah membuatnya semakin terkenal, dan mengakibatkan semakin kerasnya perlawanan terhadap penggunaan pestisida yang berlebihan; dan secara langsung menyebabkan masalah ini—pada tahun 1963— dimasukkan ke dalam agenda laporan Presidential Scientific Advisory Committee (Komisi Penasihat Ilmiah Presiden) yang justru mendukung hasil karya Carson dan kritik-kritiknya; dan pada akhirnya buku itu memainkan peranan penting dalam perolehan dukungan atas ditetapkannya Pesticide Control Act tahun 1972, dan Toxic Substance Control Act tahun 1976.

Tetapi lebih dari itu: buku Carson telah merangsang dinamika kelompok-kelompok lingkungan, yang sebelumnya tidak diperhatikan kehadirannya, dan membangkitkan semangat kelompok-kelompok konversi tradisional dan juga kelompok lainnya yang sebelumnya tidak pernah memikirkan kepentingan lingkungan dan kehidupan alam. Max Nicholson, kepala British Nature Conservancy dan seorang tokoh internasional yang kesohor menyebutnya, “mungkin merupakan sumbangan paling besar dan paling efektif dalam membangkitkan opini umum dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ekologi.” Sejarawan Amerika, Stephen Fox, bahkan mengungkapkannya secara lebih tegas: “Buku tersebut adalah Uncle Tom’s Cabin bagi gerakan pencinta lingkungan modern.”

Pada tahun 1960, Rachel Carson mendapati bahwa benjolan kecil di dadanya ternyata sebuah kanker ganas, dan operasi yang dijalaninya tidak mampu mengangkat seluruh kanker itu. Bahkan pada saat ia menulis buku itu, kesehatannya terus memburuk, sekalipun mendapat pengobatan—”tubuhku terus gemetar”, tulisnya kepada seorang sahabat, “dan sekarang hanya singkat saja waktu yang tertinggal”—dan di musim semi tahun 1964, pada usia 56 tahun, sebagai seorang korban dari suatu zat yang sangat beracun yang ia analisis sendiri dengan sangat teliti, Carson meninggal. “Hanya manusia saja, dari antara segala makhluk hidup, dapat menghasilkan zat-zat penyebab timbulnya kanker… dan keterbukaan manusia pada zat-zat itu sudah tidak terkontrol, bahkan zat-zat berbahaya itu jumlahnya semakin berlipat ganda”, tulisnya dalam salah satu bab yang membahas lingkungan berzat kanker. Dan secara profetis lanjutnya: “Kita menerima bahan-bahan penyebab kanker dalam lingkungan kita, dan menerima pula semua akibatnya.”

Ditinjau dari satu segi, tentu saja keliru bila kita menentukan bahwa gerakan lingkungan di Amerika Serikat baru dimulai pada musim semi tahun 1962, karena keprihatinan pada pelbagai bahaya lingkungan telah tampak secara aktif mulai dari abad ke-19 (bahkan, dari sejak zaman tokoh seperti Thomas Jefferson) sampai, dengan abad ke-20 ini. Para seniman dan penulis dari gerakan Romantik dan gerakan Transendental pada paruh pertama abad ke-19 meletakkan dasar apresiasi yang kuat untuk pandangan spektakuler Amerika; suatu kepekaan yang dibentuk selama paruh kedua abad ke-l9 oleh aktivis dan para pemerhati lingkungan terkemuka seperti John Muir (pendiri Sierra Club pada tahun 1892) dan Gifford Pinchot (Kepala Pengawasan Hutan Amerika yang pertama pada tahun 1905). Sekalipun berhadapan dengan dampak pada sistem alam dengan berkembangnya industri dan perdagangan, termasuk badan-badan seperti Pemerintah Federa Korps Zeni Angkatan Darat, dan Badan Pengawas Kehutanan abad ke-20 melahirkan pelbagai organisasi pecinta lingkungan (Audubon Society tahun 1905; Izaak Walton League tahun 1922; Wilderness Society tahun 1935; National Wildlife Federation tahun 1936) dan sejumlah pelopor lingkungan yang heroik: Aldo Leopold, Joseph Wood Krutch, Rosalie Edge, dan William O. Douglas yang terkenal di antara mereka. Kemudian sesudah itu seusai Perang Dunia II para tokoh pejuang lingkungan seperti Howard Zahniser dari organisasi Wilderness Society dan David Brower dan Ansel Adams dari organisasi Sierra Club menjadi terkenal karena kegigihan mereka menolak bendungan bendungan – bendungan baru di sungai-sungai kawasan barat Amerika. Buku-buku yang ditulis oleh Fairfield Osborn Our Plundered Planet dan karya William Vogt Road to Survival menjadi buku-buku laris pada tahun 1940-an, dan menjelang tahun 196O jumlah anggota organisasi-organisasi lingkungan mencapai lebih dari 300.00 orang.

Namun, dilihat dari sudut lain, dapat dikatakan bahwa memang gerakan seperti gerakan lingkungan—dalam arti yang aktif, vokal, merakyat, dan berpengaruh—tidak ada sebelum Silent Spring terbit. Bahkan sampai dengan tahun 1959, seorang pembicara pada North American Wildlife Conference masih berpendapat bahwa “kesadaran lingkungan” tidak akan pernah tumbuh pada mayoritas penduduk Amerika; tiga dekade kemudian suatu pengumpulan pendapat menunjukkan bahwa 80 persen rakyat Amerika mendukung tujuan organisasi lingkungan. Recenderungan sekarang terlihat sebagai suatu pasang naik; organisasi-organisasi lama mulai mengambil cara-cara baru dalam bergerak dan beroperasi, sementara organisasi baru bermunculan di mana-mana; lahir suatu kesadaran dan pemahaman baru. Pangeran Phillip dari Inggris, yang sudah sejak lama menjadi pemerhati masalah lingkungan menyebut kecenderungan ini sebagai”revolusi lingkungan”.

Tentu saja revolusi seperti itu tidak mungkin timbul hanya karena pengaruh sebuah buku. Kekuatan-kekuatan di belakang gerakan lingkungan adalah bermacam-macam dan kompleks. Lima belas tahun setelah PD II Amerika mulai memandang dengan kagum munculnya suatu “masyarakat makmur” dan berapa harga yang harus dibayar untuk itu. Di sekililing masyarakat itu terlihat buah-buah dari apa yang disebut “revolusi sintetis”, plastik, bahan kimia, pestisida, detergen, pusat tenaga nuklir, dan semacamnya—dan juga tampak bertebaran daerah atau kawasan pinggiran kota serta merebaknya gedung-gedung pencakar langit. Sekalipun demikian tidak muncul ketenangan dan kedamaian serta kehidupan harmonis seperti yang dijanjikannya. Bukan saja segmen penduduk (pada umumnya kulit berwarna) yang tidak tersentuh oleh kemanfaatan kehidupan dalam masyarakat kelas tinggi yang fleksibel—kemenangan John Kennedy pada tahun 1960 setidak-tidaknya sebagian disebabkan karena keprihatinan bahwa “seperempat dari anak-anak Amerika pergi tidur dengan perut lapar—tapi juga mereka yang merasakan pelbagai kemanfaatan itu masih menyimpan suat krisis dengan lapisan masyarakat yang semakin menegang dan penyakit modern yang disebut “affluenza”—dengan semakin meningkatnya ketergantungan pada alkohol, obat bius kecenderungan bunuh diri, kegilaan, dan kekerasan serta perpecahan keluarga. Yang lebih gawat lagi, bahwa semua kemanfaatan materi itu tampaknya harus dibayar mahal—penuh sesaknya kawasan perkotaan, semakin meluasnya kawasan suburban, polusi udara dan kabut campur asap, sungai-sungai yang dibendung penyakit kanker dan abu radioaktif yang berasal dari peledakan nuklir (suatu harga yang semakin sering masuk tayangan televisi ke seluruh negeri)—dan semua itu berlangsung makin gila saja (ini disebut “future shock”) yang tampaknya sudah di luar pengawasan yang efektif baik oleh organisasi bisnis sendiri yang mengambil keuntungan darinya, maupun oleh pemerintah yang seharusnya mengaturnya. Ringkasnya, ketidak senangan keterpisahan, dan konflik-konflik yang menjadi masalah pada tahun 1960-an, semakin merebak.

Pada saat yang sama, suasana “boom materi” pasca perang telah menghasilkan semakin tingginya jumlah tamatan universitas karyawan kelas menengah yang tumbuh cepat menempati kawasan pinggiran kota agar mereka dapat lagi mendengarkan kicau burung di pagi hari dan menatap bintang di malam hari. Mereka ini menginginkan—dan dapat membiayai—apa yang disebut oleh para ahli sosiologi “kualitas hidup” dan bukan “standar hidup” dalam arti tradisional: tambahan-tambahan yang membuat hidup lebih nikmat setelah kebutuhan pokok, termasuk waktu senggang hiburan di luar rumah, air dan udara yang bersih, keamanan dan kesehatan pribadi dan kebutuhan yang lebih besar akan lingkungan yang alami, setidak-tidaknya menyerupai taman, kawasan hutan lindung, kebun raya, dan jalan raya berpemandangan.

Dengan demikian, ketika Silent Spring muncul, ternyata para pembaca sudah siap dan dengan demikian siap pula dasar dan motivasi untuk gerakan lingkungan. Bahwa pembaca atau pemerhati lingkungan terus bertambah jumlahnya dalam masa 30 tahun berikut, memang tidak dapat diramalkan, apalagi kalau melihat sedemikian banyak masalah sosial yang menarik perhatian masyarakat Amerika pada suatu ketika dan dengan cepat hilang atau dilupakan. Akan tetapi gerakan lingkungan, yang dalam waktu singkat menjadi terkenal, tidak hanya berlangsung selama Silent Spring hangat dibaca orang dan selama masalah ancaman DDT dibahas oleh pelbagai kalangan, tetapi berkelanjutan terus memperluas cakupannya, meningkatkan keprihatinannya, juga semakin banyak jumlahnya, dengan berlalunya tahun demi tahun, dengan munculnya malapetaka-malapetaka lingkungan. Pada saat ini, setelah tiga puluh tahun, gerakan lingkungan telah menjadi faktor yang sangat menentukan dalam segala hal, mulai dari kampanye politik sampai agenda rapat legislatif, membentuk nilai tambah atau kode etik bagi pemasaran barang dimasukkannya dalam kurikulum sekolah; singkatnya, masalah lingkungan telah menjadi bagian permanen dalam kehidupan Amerika. Apa pun yang membentuk gerakan lingkungan dalam dekade berikut, ataupun abad mendatang gerakan selama 30 tahun terakhir ini telah mengubah kesadaran dan sikap orang Amerika sedalam perubahan akibat kesadaran terhadap masalah perbudakan pada abad ke-l9. Jarang sekali ada suatu gerakan yang dalam tempo sesingkat itu memperoleh dukungan luas masyarakat, dan memberikan dampak regulatoris dan legislatif, menghasilkan sedemikian banyak organisasi aktif, atau menjadi terpatri dalam suatu kebudayaan: benar-benar suatu REVOLUSI HIJAU!

Buku ini merupakan kisah dari tiga dasawarsa gerakan-gerakan lingkungan di Amerilca Serikat: faktor-faktor yang menyebabkan kemunculannya, kampanye-kampanye yang dilakukan, jatuh bangunnya, lawan dan kawannya, serta kegagalan dan, keberhasilannya. Tiga dasawarsa ini dapat kita bagi menjadi empa periode yang saling berkaitan:

Periode pertama, berlangsung dari tahun 1962 sampai dengan Hari Bumi yang pertama pada tahun 1970, yakni ketika gerakan lingkungan pada awalnya dipaksa masuk dalam agenda nasional, dan dengan demikian mengubah keprihatinan tradisionalnya terhadap wilayah hutan belantara ke fokus yang baru mengenai ancaman terhadap pemukiman manusia.

Periode kedua, berlangsung selama dasawarsa 1970-an sampai masa kepresidenan Reagan, saat pemerintahan Washington menjadi panglima medan perang dan pelopor utama pembaruan hukum, yang diarahkan oleh suatu persepsi baru mengenai hari kiamat yang sedang mendekat, dan umat manusia sebagai makhluk yang terancam di buminya sendiri.

Periode ketiga, tahun-tahun saat Reagan memberikan tanggapan, yakni ketika gerakan lingkungan dibagi menjadi tendensi yang semakin profesional, dan kelompok akar-rumput, kelompok bawah yang semakin radikal, yang ditandai oleh semakin tingginya pemahaman akan bumi yang terancam ini.

Periode keempat, masa pemerintahan Presiden Bush, ketika gerakan-gerakan lingkungan semakin matang baik dalam metode dan aksi serta tumbuh dengan semakin banyak anggota dan semakin banyak pula dananya, dan dengan semakin gigihnya perlawanan dan juga semakin getirnya frustrasi di hadapan kesadaran akan tekanan dan krisis pada biosfer dari satu-satunya planet yang berisi kehidupan di seluruh alam semesta ini.

Tiga dasawarsa dalam eksperimen yang luar biasa, unik dalam dunia yang modern ini, umat manusia harus berupaya menjadi nakhoda yang berhasil dalam mengemudikan bahtera suci, planet bumi.

* Sudah diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia oleh Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 1990, dengan judul Musim Bunga yang Bisu, (redaksi.)

   
 

Judul asli:
The Green Revolution: The American Environmental Movement, 1962-1992
By Kirkpatrick Sale, originally published in the United States by Hill and Wang, New York

Penerjemah: Natheos Naller
Hak penerbitan dalam edisi bahasa Indonesia pada yayasan Obor Indonesia (Anggota IKAPI) Bandung, 1996.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.