Diarsipkan di bawah: lingkungan
|
|
|||||||
|
Diarsipkan di bawah: lingkungan
|
|
|
REVOLUSI PENGENDALIAN EMISI Dua pulah tahun yang lalu alat konversi berkatalis belum ada di pasaran. Bahkan saat pertama kali para pemimpin di A.S. mengusulkan standar emisi yang menyebabkan kemajuan mereka, president General Motor, pembnat kendaraan bermotor terbesar di dunia, berkata, “Sepanjang pengetahuan kami, tujuan ini secara teknologis tidak bakal tercapai.” Namun sejak akhir tahun 1980-an, boleh dikata setiap sedan, mobil wagon, pikup, dan trak baru yang terjual di A.S. dilengkapi dengan alat konversi berkatalis, sehingga pengurangan emisi senyawa-senyawa organik dan karbon monoksida yang mudah menguap sampai 85 persen, dan oksida nitrogen sampai 60 persen dari umur mobil menjadi mungkin. Pemakaian secara luas pengendalian emisi yang canggih itu untuk mobil dan truk pada 1980-an dimulai oleh Amerika Serikat dan Jepang sendiri sebagai dua negara yang mempunyai program pengendalian polusi paling maju untuk mobil. Namun pada 1993, terjadi pembalikan 180 derajat; setiap kelompok besar negara (meskipun tidak setiap negara dalam kelompok itu) telah menerapkan pengendalian atas knalpot termasuk beberapa negara bekas UniSoviet. Perkembangan pesat alat pengendali model A.S. dimulai di Eropa Barat ketika Jerman, Swis, Austria dan Swedia cemas melihat meningkatnya kerusakan lingkungan akibat polusi udara. Jerman mulai mengusulkan diterapkannya standar yang lebih ketat di Pasar Bersama Eropa, sedang ketiga negara lainnya—semua bukan anggota Masyarakat Ekonomi Eropa—menegaskan bahwa mereka akan secara sepihak menetapkan pengendalian polusi dengan katalis. Gabungan tekanan dari dalam dan luar negeri memuncak pada suatu keputusan tahun 1989 yang mewajibkan pemakaian standar A.S. pada semua mobil di Pasar Bersama, dimulai dengan mobil model tahun 1992. Perubahan ini tidak terjadi begitu saja, karena pada 1988 jumlah mobil di selurah dunia pertama kali melampaui 400 juta dalam sejarah. Sementara pertumbuhan terjadi paling pesat di berbagai kawasan Asia yang mulai berindustrializasi, target penjualan mobil baru juga sudah ditetaplan, bahkan di kawasan yang sudah sangat maju seperti Eropa Barat. Termasuk kendaraan niaga, jumlah kendaraan di jalan-jalan mencapai 500 juta pada 1989—peningkatan sepuluh kali lipat sejak 1950. Tampaknya tidak ada tanda-tanda akan berakhirnya pertumbuhan luar biasa pada jumlah sedan dan truk. Penduduk dunia diperkirakan akan berlipat dua pada tahun 2000 dibandingkan tahun 1960, didorong oleh peningkatan lipat dua di Asia dan 150 persen di Amerika Latin. Sementara polusi udara makin merajalela di kota-kota besar negara berkembang, negara seperti Meksiko, Brasil dan Taiwan sudah meneraphan pengendali polusi berkatalis. Maka pada akhir dasawarsa ini, negara-negara di seluruh dunia sudah akan menerapkannya pula: Jepang, Taiwan dan Korea Selatan di Asia; Brasil di Amerika Selatan; dan negara-negara Pasar Bersama plus Austria, Swedia, Swis di Eropa Barat. Sekarang, empat dari setiap lima mobil baru memenahi standar berdasarkan katalis modern atau sejenisnya. Sementara itu, di California, setelah dengar pendapat berlarut-larut, pemerintah negara bagian pada 1991 menetaplan suatu persyaratan penjualan “Kendaraan Beremisi Nol ” (ZEV) dimulai dengan model tahun 1989. ZEVsekedar suatu bagian dari suatu matriks rumit standar-standar yang makin ketat yang akan diterapkan secara bertahap. ZEV pertama harus sudah beredar di jalan pada 1998, yang jumlahnya harus mencapai 2 persen dari penjualan mobil baru, meningkat menjadi 10 persen pada tahun 2003. Gerakan untuk mencegah polusi dari mesin diesel, yang tanpa pengendali emisi akan memancarkan 30 sampai 70 kali benda partikulat dibanding mesin bensin yang dilengkapi alat konversi berkatalis, juga sudah mulai mendapat momentum. Sampai belakangan ini, mesin diesel boleh dikata tidak diatur di seluruh dunia, tapi standar baru yang dipakai di A.S. dan Eropa telah merangsang perkembangan teknologi yang menjanjikan peningkatan perbaikan emisi diesel secara besar-besaran. Perangkap, atau alat untuk menangkap jelaga diesel untuk dihancurkan, telah dikembangkan, begitu juga alat konversi berkatalis yang sudah dimodifikasi secara khusus. Di Jepang, pemerintah tengah mengatur bahan bakar serta mesin, menerapkan apa yang selama ini digambarkan sebagai persyaratan mutu bahan bakar terketat di dunia. Hanya standar yang makin ketat saja yang memungkinkan polusi mobil dapat dikendalikan karena jumlah kendaraan di jalan-jalan—dan paling penting panjang jarak yang ditempah—meningkat pesat. Bagaimana nantinya masih belum jelas. Tak pelak emisi knalpot harus mulai mendekati nol atau pertumbuhan harus dikendalikan, atau kedua-keduanya, jika kota-kota besar ingin mempunyai udara yang sehat untuk dihirup. |
Hidrokarbon. Zat ini kadang-kadang disebut sebagai senyawa organik yang mudah menguap (“volatile organic compounds/VOC”), dan juga sebagai gas organic reaktif (“reactive organic gases/ROG”). Hidrokarbon merupakan uap bensin yang tidak terbakar dan produk samping dari pembakaran tak sempurna. Jenis-jenis hidrokarbon lain, yang sebagian menyebabkan leukemia, kanker, atau penyakit-penyakit serius lain, berbentuk cairan untuk cuci-kering pakaian sampai zat penghilang lemak untuk industri.
Laju Pelaksanaan untuk Kendaraan Beremisi Nol atau Mendekati Nol (TLEV, LEV, ULEV dan ZEV)
Bagan di bawah menunjukkan laju yang harus diterapkan pabrik mobil dalam memulai penjualan kendaraan baru yang kurang berpolusi sebagaimana disyaratkan oleh California dengan menggunakan emisi hidrokarbon sebagai contoh. Misalnya, pada 1998; 48 persen penjualan mobil baru harus memenuhi suatu batas emisi sebesar 0,25 gram per kilometer; 48 persen lagi harus memenuhi standar kendaraan beremisi rendah (LEV) setinggi 0,075 gram per kilometer; 2 persen harus memenuhi standar kendaraan beremisi ultra rendah (ULEV) setinggi 0,040; dan 2 persen lagi harus berupa kendaraan beremisi nol (ZEV). Rata-rata bagi semua mobil adalah 0,115 gram per kilometer.
| Model Tahun |
0,39 |
0,25 |
TLEV 0,125 |
LEV 0,075 |
ULEV 0,040 |
ZEV 0,00 |
Standar Rata-Rata Mobil |
| 1994 | 10% | 80% | 10% | 0,250 | |||
| 1995 | 85% | 15% | 0,231 | ||||
| 1996 | 89% | 20% | 0,225 | ||||
| 1997 | 73% | 2% | 25% | 0,202 | |||
| 1998 | 48% | 2% | 48% | 2% | 0,157 | ||
| 1999 | 23% | 2% | 73% | 2% | 0,113 | ||
| 2000 | 2% | 96% | 2% | 0,073 | |||
| 2001 | 5% | 90% | 5% | 0,070 | |||
| 2002 | 10% | 85% | 5% | 0,068 | |||
| 2003 | 15% | 75% | 10% | 0,062 |
Ozon atau Asap Kabut Fotokimiawi. Ozon, terdiri dari beratus-ratus zat kimiawi yang terdapat dalam asap kabut, terbentuk ketika hidrokarbon pekat di perkotaan bereaksi dengan oksida nitrogen. Tetapi, karena salah satu zat kimiawi itu, yaitu ozon, adalah yang paling dominan, pemerintah menggunakannya sebagai tolok ukur untuk menetapkan konsentrasi oksidan secara umum. Ozon merupakan zat oksidan yang begitu kuat (selain klor) sehingga beberapa kota menggunakannya sebagai disinfektan pasokan air minum. Banyak ilmuwan menganggapnya sebagai polutan udara yang paling beracun; begitu berbahayanya sehingga pada eksperimen laboratorium untuk menguji dampak ozon, satu dari setiap sepuluh sukarelawan harus dipindahkan dari bilik pajanan yang digunakan dalam eksperimen itu karena gangguan pernapasan. Pada hewan percobaan laboratorium, ozon menyebabkan luka dan kerusakan sel yang mirip dengan yang diderita para perokok. Karena emisi oksida nitrogen dan hidrokarbon semakin meningkat, tingkat ozon bahkan di pedesaan telah berlipat dua, dan kini mendekati tingkat membahayakan bagi banyak spesies.
Timah. Logam berwarna kelabu keperakan yang amat beracun dalam setiap bentuknya ini merupakan ancaman yang amat berbahaya bagi anak di bawah usia 6 tahun, yang biasanya mereka telan dalam bentuk serpihan cat pada dinding rumah. Logam berat ini merusak kecerdasan, menghambat pertumbuhan, mengurangi kemampuan untuk mendengar dan memahami bahasa, dan menghilangkan konsentrasi. Bahkan pajanan dengan tingkat yang amat rendah sekalipun tampaknya selalu diasosiasikan dengan rendahnya kecerdasan. Karena sumber utama timah adalah asap kendaraan berbahan bakar bensin yang mengandung timah, maka polutan ini dapat ditemui di mana ada mobil, truk, dan bus. Bahkan di negara-negara yang telah berhasil menghapuskan penggunaan bensin yang mengandung timah, debu di udara tetap tercemar karena penggunaan bahan bakar ini selama puluhan tahun. Di Kota Meksiko City, misalnya, tujuh dari 10 bayi yang baru lahir memiliki kadar timah dalam darah lebih tinggi daripada standar yang diizinkan WHO.
Di samping timah, banyak sekali zat beracun lain menambah beban kandungan polutan di daerah perkotaan. Zat-zat ini mulai dari asbes dan logam berat (seperti kadmium, arsenik, mangan, nikel dan zink) sampai bermacam-macam senyawa organik (seperti benzene dan hidrokarbon lain dan aldehida). Perusahaan-perusahaan di AS mengeluarkan sedikitnya 1,2 juta metrik ton zat beracun ke udara pada tahun 1987. Badan Perlindungan Lingkungan AS memperkirakan bahwa pajanan terhadap polutan-polutan tersebut mengakibatkan antara 1.700 sampai 2.700 jenis kanker per tahun.
![]() |
Seri Makalah Hijau Redaktur: Howard Cincotta Penerjemah: Tim Penerjemah IKIP Malang |
Diarsipkan di bawah: lingkungan
Bab 1
Asal Muasal
Pada akhir musim panas tahun 1962, seorang ahli biologi kelautan bernama Rachel Carson, yang pada waktu itu buku-bukunya tentang kehidupan laut masuk kategori sangat laris, menyuarakan peringatan ini kepada dunia:
Ketika manusia beranjak maju guna mencapai tujuannya yakni menaklukkan alam, ia telah menoreh catatan-catatan mengenai kerusakan mengerikan yang mengarah bukan saja pada bumi tempat ia tinggal, tapi juga pada sesama makhluk hidup lainnya. Sejarah abad-abad belakangan ini, memiliki lembaran-lembaran gelap—pembantaian bison besar-besaran di wilayah barat Amerika, pembunuhan dalam jumlah besar burung-pantai oleh para pemburu lantaran permintaan pasar, dan hampir punahnya jenis-jenis burung tertentu yang diburu karena bulunya yang indah. Saat ini, kepada pelbagai jenis hewan langka seperti itu, kita menambahi lagi sebuah babak baru yakni cara pemusnahan jenis baru—pembunuhan secara langsung burung-burung, binatang mamalia, ikan-ikan, dan semua jenis hewan liar dengan penyemprotan bahan kimia secara serampangan pada permukaan tanah
.…Pertanyaan kita adalah: apakah ada peradaban yang dapat melancarkan perang semacam itu terhadap kehidupan tanpa menghancurkan dirinya sendiri, dan tanpa kehilangan hak untuk disebut beradab?
Dengan ungkapan kemarahan dan tanpa kompromi seperti di atas, dapat dikatakan bahwa gerakan lingkungan modern dimulai.
Buku Silent Spring* sangat menonjol dan didaftar sebagai salah satu buku paling laris oleh harian The New York Times selama 31 minggu dan terjual sebanyak lebih dari 500.000 copy. Sesuatu fenomena yang sangat jarang bagi sebuah buku non-fiksi yang serius. Kutukannya yang keras dan tuntas terhadap industri pestisida Amerika, terutama kasusnya yang mengejutkan melawan DDT, mencapai sebuah rekor—yang memang telah menanti untuk dicapai — dengan jelas menguraikan semakin meningkatnya kecemasan terhadap teknologi pasca-perang dunia dan juga semakin tingginya kesadaran akan pentingnya kenyamanan-kenyamanan non-materi dalam kehidupan. Segera buku itu mendapat serangan balik dari dunia industri, khususnya industri kimia yang sampai mengeluarkan dana kampanye sebesar US$ 250.000 untuk membuktikan bahwa Carson adalah “seorang histeris yang dungu”. Namun sebaliknya buku tersebut bahkan memperoleh penghargaan dari National Wildlife Federation dan Audubon Society, karena itu malah membuatnya semakin terkenal, dan mengakibatkan semakin kerasnya perlawanan terhadap penggunaan pestisida yang berlebihan; dan secara langsung menyebabkan masalah ini—pada tahun 1963— dimasukkan ke dalam agenda laporan Presidential Scientific Advisory Committee (Komisi Penasihat Ilmiah Presiden) yang justru mendukung hasil karya Carson dan kritik-kritiknya; dan pada akhirnya buku itu memainkan peranan penting dalam perolehan dukungan atas ditetapkannya Pesticide Control Act tahun 1972, dan Toxic Substance Control Act tahun 1976.
Tetapi lebih dari itu: buku Carson telah merangsang dinamika kelompok-kelompok lingkungan, yang sebelumnya tidak diperhatikan kehadirannya, dan membangkitkan semangat kelompok-kelompok konversi tradisional dan juga kelompok lainnya yang sebelumnya tidak pernah memikirkan kepentingan lingkungan dan kehidupan alam. Max Nicholson, kepala British Nature Conservancy dan seorang tokoh internasional yang kesohor menyebutnya, “mungkin merupakan sumbangan paling besar dan paling efektif dalam membangkitkan opini umum dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ekologi.” Sejarawan Amerika, Stephen Fox, bahkan mengungkapkannya secara lebih tegas: “Buku tersebut adalah Uncle Tom’s Cabin bagi gerakan pencinta lingkungan modern.”
Pada tahun 1960, Rachel Carson mendapati bahwa benjolan kecil di dadanya ternyata sebuah kanker ganas, dan operasi yang dijalaninya tidak mampu mengangkat seluruh kanker itu. Bahkan pada saat ia menulis buku itu, kesehatannya terus memburuk, sekalipun mendapat pengobatan—”tubuhku terus gemetar”, tulisnya kepada seorang sahabat, “dan sekarang hanya singkat saja waktu yang tertinggal”—dan di musim semi tahun 1964, pada usia 56 tahun, sebagai seorang korban dari suatu zat yang sangat beracun yang ia analisis sendiri dengan sangat teliti, Carson meninggal. “Hanya manusia saja, dari antara segala makhluk hidup, dapat menghasilkan zat-zat penyebab timbulnya kanker… dan keterbukaan manusia pada zat-zat itu sudah tidak terkontrol, bahkan zat-zat berbahaya itu jumlahnya semakin berlipat ganda”, tulisnya dalam salah satu bab yang membahas lingkungan berzat kanker. Dan secara profetis lanjutnya: “Kita menerima bahan-bahan penyebab kanker dalam lingkungan kita, dan menerima pula semua akibatnya.”
Ditinjau dari satu segi, tentu saja keliru bila kita menentukan bahwa gerakan lingkungan di Amerika Serikat baru dimulai pada musim semi tahun 1962, karena keprihatinan pada pelbagai bahaya lingkungan telah tampak secara aktif mulai dari abad ke-19 (bahkan, dari sejak zaman tokoh seperti Thomas Jefferson) sampai, dengan abad ke-20 ini. Para seniman dan penulis dari gerakan Romantik dan gerakan Transendental pada paruh pertama abad ke-19 meletakkan dasar apresiasi yang kuat untuk pandangan spektakuler Amerika; suatu kepekaan yang dibentuk selama paruh kedua abad ke-l9 oleh aktivis dan para pemerhati lingkungan terkemuka seperti John Muir (pendiri Sierra Club pada tahun 1892) dan Gifford Pinchot (Kepala Pengawasan Hutan Amerika yang pertama pada tahun 1905). Sekalipun berhadapan dengan dampak pada sistem alam dengan berkembangnya industri dan perdagangan, termasuk badan-badan seperti Pemerintah Federa Korps Zeni Angkatan Darat, dan Badan Pengawas Kehutanan abad ke-20 melahirkan pelbagai organisasi pecinta lingkungan (Audubon Society tahun 1905; Izaak Walton League tahun 1922; Wilderness Society tahun 1935; National Wildlife Federation tahun 1936) dan sejumlah pelopor lingkungan yang heroik: Aldo Leopold, Joseph Wood Krutch, Rosalie Edge, dan William O. Douglas yang terkenal di antara mereka. Kemudian sesudah itu seusai Perang Dunia II para tokoh pejuang lingkungan seperti Howard Zahniser dari organisasi Wilderness Society dan David Brower dan Ansel Adams dari organisasi Sierra Club menjadi terkenal karena kegigihan mereka menolak bendungan bendungan – bendungan baru di sungai-sungai kawasan barat Amerika. Buku-buku yang ditulis oleh Fairfield Osborn Our Plundered Planet dan karya William Vogt Road to Survival menjadi buku-buku laris pada tahun 1940-an, dan menjelang tahun 196O jumlah anggota organisasi-organisasi lingkungan mencapai lebih dari 300.00 orang.
Namun, dilihat dari sudut lain, dapat dikatakan bahwa memang gerakan seperti gerakan lingkungan—dalam arti yang aktif, vokal, merakyat, dan berpengaruh—tidak ada sebelum Silent Spring terbit. Bahkan sampai dengan tahun 1959, seorang pembicara pada North American Wildlife Conference masih berpendapat bahwa “kesadaran lingkungan” tidak akan pernah tumbuh pada mayoritas penduduk Amerika; tiga dekade kemudian suatu pengumpulan pendapat menunjukkan bahwa 80 persen rakyat Amerika mendukung tujuan organisasi lingkungan. Recenderungan sekarang terlihat sebagai suatu pasang naik; organisasi-organisasi lama mulai mengambil cara-cara baru dalam bergerak dan beroperasi, sementara organisasi baru bermunculan di mana-mana; lahir suatu kesadaran dan pemahaman baru. Pangeran Phillip dari Inggris, yang sudah sejak lama menjadi pemerhati masalah lingkungan menyebut kecenderungan ini sebagai”revolusi lingkungan”.
Tentu saja revolusi seperti itu tidak mungkin timbul hanya karena pengaruh sebuah buku. Kekuatan-kekuatan di belakang gerakan lingkungan adalah bermacam-macam dan kompleks. Lima belas tahun setelah PD II Amerika mulai memandang dengan kagum munculnya suatu “masyarakat makmur” dan berapa harga yang harus dibayar untuk itu. Di sekililing masyarakat itu terlihat buah-buah dari apa yang disebut “revolusi sintetis”, plastik, bahan kimia, pestisida, detergen, pusat tenaga nuklir, dan semacamnya—dan juga tampak bertebaran daerah atau kawasan pinggiran kota serta merebaknya gedung-gedung pencakar langit. Sekalipun demikian tidak muncul ketenangan dan kedamaian serta kehidupan harmonis seperti yang dijanjikannya. Bukan saja segmen penduduk (pada umumnya kulit berwarna) yang tidak tersentuh oleh kemanfaatan kehidupan dalam masyarakat kelas tinggi yang fleksibel—kemenangan John Kennedy pada tahun 1960 setidak-tidaknya sebagian disebabkan karena keprihatinan bahwa “seperempat dari anak-anak Amerika pergi tidur dengan perut lapar—tapi juga mereka yang merasakan pelbagai kemanfaatan itu masih menyimpan suat krisis dengan lapisan masyarakat yang semakin menegang dan penyakit modern yang disebut “affluenza”—dengan semakin meningkatnya ketergantungan pada alkohol, obat bius kecenderungan bunuh diri, kegilaan, dan kekerasan serta perpecahan keluarga. Yang lebih gawat lagi, bahwa semua kemanfaatan materi itu tampaknya harus dibayar mahal—penuh sesaknya kawasan perkotaan, semakin meluasnya kawasan suburban, polusi udara dan kabut campur asap, sungai-sungai yang dibendung penyakit kanker dan abu radioaktif yang berasal dari peledakan nuklir (suatu harga yang semakin sering masuk tayangan televisi ke seluruh negeri)—dan semua itu berlangsung makin gila saja (ini disebut “future shock”) yang tampaknya sudah di luar pengawasan yang efektif baik oleh organisasi bisnis sendiri yang mengambil keuntungan darinya, maupun oleh pemerintah yang seharusnya mengaturnya. Ringkasnya, ketidak senangan keterpisahan, dan konflik-konflik yang menjadi masalah pada tahun 1960-an, semakin merebak.
Pada saat yang sama, suasana “boom materi” pasca perang telah menghasilkan semakin tingginya jumlah tamatan universitas karyawan kelas menengah yang tumbuh cepat menempati kawasan pinggiran kota agar mereka dapat lagi mendengarkan kicau burung di pagi hari dan menatap bintang di malam hari. Mereka ini menginginkan—dan dapat membiayai—apa yang disebut oleh para ahli sosiologi “kualitas hidup” dan bukan “standar hidup” dalam arti tradisional: tambahan-tambahan yang membuat hidup lebih nikmat setelah kebutuhan pokok, termasuk waktu senggang hiburan di luar rumah, air dan udara yang bersih, keamanan dan kesehatan pribadi dan kebutuhan yang lebih besar akan lingkungan yang alami, setidak-tidaknya menyerupai taman, kawasan hutan lindung, kebun raya, dan jalan raya berpemandangan.
Dengan demikian, ketika Silent Spring muncul, ternyata para pembaca sudah siap dan dengan demikian siap pula dasar dan motivasi untuk gerakan lingkungan. Bahwa pembaca atau pemerhati lingkungan terus bertambah jumlahnya dalam masa 30 tahun berikut, memang tidak dapat diramalkan, apalagi kalau melihat sedemikian banyak masalah sosial yang menarik perhatian masyarakat Amerika pada suatu ketika dan dengan cepat hilang atau dilupakan. Akan tetapi gerakan lingkungan, yang dalam waktu singkat menjadi terkenal, tidak hanya berlangsung selama Silent Spring hangat dibaca orang dan selama masalah ancaman DDT dibahas oleh pelbagai kalangan, tetapi berkelanjutan terus memperluas cakupannya, meningkatkan keprihatinannya, juga semakin banyak jumlahnya, dengan berlalunya tahun demi tahun, dengan munculnya malapetaka-malapetaka lingkungan. Pada saat ini, setelah tiga puluh tahun, gerakan lingkungan telah menjadi faktor yang sangat menentukan dalam segala hal, mulai dari kampanye politik sampai agenda rapat legislatif, membentuk nilai tambah atau kode etik bagi pemasaran barang dimasukkannya dalam kurikulum sekolah; singkatnya, masalah lingkungan telah menjadi bagian permanen dalam kehidupan Amerika. Apa pun yang membentuk gerakan lingkungan dalam dekade berikut, ataupun abad mendatang gerakan selama 30 tahun terakhir ini telah mengubah kesadaran dan sikap orang Amerika sedalam perubahan akibat kesadaran terhadap masalah perbudakan pada abad ke-l9. Jarang sekali ada suatu gerakan yang dalam tempo sesingkat itu memperoleh dukungan luas masyarakat, dan memberikan dampak regulatoris dan legislatif, menghasilkan sedemikian banyak organisasi aktif, atau menjadi terpatri dalam suatu kebudayaan: benar-benar suatu REVOLUSI HIJAU!
Buku ini merupakan kisah dari tiga dasawarsa gerakan-gerakan lingkungan di Amerilca Serikat: faktor-faktor yang menyebabkan kemunculannya, kampanye-kampanye yang dilakukan, jatuh bangunnya, lawan dan kawannya, serta kegagalan dan, keberhasilannya. Tiga dasawarsa ini dapat kita bagi menjadi empa periode yang saling berkaitan:
Periode pertama, berlangsung dari tahun 1962 sampai dengan Hari Bumi yang pertama pada tahun 1970, yakni ketika gerakan lingkungan pada awalnya dipaksa masuk dalam agenda nasional, dan dengan demikian mengubah keprihatinan tradisionalnya terhadap wilayah hutan belantara ke fokus yang baru mengenai ancaman terhadap pemukiman manusia.
Periode kedua, berlangsung selama dasawarsa 1970-an sampai masa kepresidenan Reagan, saat pemerintahan Washington menjadi panglima medan perang dan pelopor utama pembaruan hukum, yang diarahkan oleh suatu persepsi baru mengenai hari kiamat yang sedang mendekat, dan umat manusia sebagai makhluk yang terancam di buminya sendiri.
Periode ketiga, tahun-tahun saat Reagan memberikan tanggapan, yakni ketika gerakan lingkungan dibagi menjadi tendensi yang semakin profesional, dan kelompok akar-rumput, kelompok bawah yang semakin radikal, yang ditandai oleh semakin tingginya pemahaman akan bumi yang terancam ini.
Periode keempat, masa pemerintahan Presiden Bush, ketika gerakan-gerakan lingkungan semakin matang baik dalam metode dan aksi serta tumbuh dengan semakin banyak anggota dan semakin banyak pula dananya, dan dengan semakin gigihnya perlawanan dan juga semakin getirnya frustrasi di hadapan kesadaran akan tekanan dan krisis pada biosfer dari satu-satunya planet yang berisi kehidupan di seluruh alam semesta ini.
Tiga dasawarsa dalam eksperimen yang luar biasa, unik dalam dunia yang modern ini, umat manusia harus berupaya menjadi nakhoda yang berhasil dalam mengemudikan bahtera suci, planet bumi.
* Sudah diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia oleh Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 1990, dengan judul Musim Bunga yang Bisu, (redaksi.)
|
Judul asli: Penerjemah: Natheos Naller |
Diarsipkan di bawah: lingkungan
Sebab-Sebab Terjadinya Degradasi Lingkungan Hidup.
Ada dua faktor penyebab terjadinya degradasi lingkungan hidup (LH), pertama penyebab yang bersifat tidak langsung dan kedua penyebab yang bersifat langsung. Faktor penyebab tidak langsung merupakan penyebab yang sangat dominan terhadap kerusakan lingkungan, sedangkan yang bersifat langsung, terbatas pada ulah penduduk setempat yang terpaksa mengeksploitasi hutan/lingkungan secara berlebihan karena desakan kebutuhan. Faktor penyebab tersebut berikut ini bersifat tidak langsung.
1. Pertambahan Penduduk. Penduduk yang bertambah terus setiap tahun menghendaki penyediaan sejumlah kebutuhan atas “pangan, sandang dan papan (rumah)”. Sementara itu ruang muka bumi tempat manusia mencari nafkah tidak bertambah luas. Perluasan lapangan usaha itulah yang pada gilirannya menyebabkan eksploitasi lingkungan secara berlebihan dan atau secara liar.
2 Kebijakan Pemerintah. Beberapa kebijakan pemerintah yang berdampak negatif terhadap LH. Sejak tahun 1970, pembangunan Indonesia dititikberatkan pada pembangunan industri yang berbasis pada pembangunan pertanian yang menyokong industri. Keinginan pemerintah Orde Baru saat itu yang segera ingin mewujudkan Indonesia sebagai negara industri, telah menyebabkan rakyat miskin mayoritas penduduk (terutama yang tidak memiliki lahan yang cukup) hanya menjadi “penonton” pembangunan. Bahkan sebagian dari mereka kehilangan mata pencarian sebagai buruh tani dan nelayan karena masuknya teknologi di bidang pertanian dan perikanan. Mereka ini karena terpaksa menggarap tanah negara secara liar di daerah pesisir hingga pegunungan.
3. Dampak Industrialisasi. Dalam proses industrialisasi ini antara lain termasuk industri perkayuan, perumahan/real estate dan industri kertas. Ketiga industri tersebut di atas memerlukan kayu dalam jumlah yang besar sebagai bahan bakunya. Inilah awal mula eksploitasi kayu di hutan-hutan, yang melibatkan banyak kalangan terlibat di dalamnya. Keuntungan yang demikian besar dalam bisnis perkayuan telah mengundang banyak pengusaha besar terjun di bidang ini. Namun, sangat disayangkan karena sulitnya pengawasan, banyak aturan di bidang pengusahaan hutan ini yang dilanggar yang pada gilirannya berkembang menjadi semacam “mafia” perkayuan. Semua ini terjadi karena ada jaringan kolusi yang rapi antara pengusaha, oknum birokrasi dan oknum keamanan. Sementara itu penduduk setempat yang perduli hutan tidak berdaya menghadapinnya. Akibat lebih lanjut penduduk setempat yang semula peduli dan mencintai hutan serta memiliki sikap moral yang tinggi terhadap lingkungan menjadi frustasi, bahkan kemudian sebagian dari mereka turut terlibat dalam proses “illegal logging” tersebut. Masalah tersebut di atas di era pemerintahan Orde Reformasi sekarang ini masih terus berlanjut, bahkan semakin marak dan melibatkan sejumlah pihak yang lebih banyak dibandingkan dengan era Orde Baru. Uang yang berlimpah dari keuntungan illegal logging ini telah membutakan mata hati/dan moral oknum-oknum birokrat dan penegak hukum yang terlibat atas betapa pentingnya manfaat hutan dan lingkungan hidup yang lestari, untuk kehidupan semua makhluk, khususnya manusia generasi sekarang dan yang akan datang.
4. Reboisasi dan Reklamasi yang Gagal. Upaya reboisasi hutan yang telah ditebang dan reklamasi lubang/tanah terbuka bekas galian tambang sangat minim hasilnya karena prosesnya memerlukan waktu puluhan tahun dan dananya tidak mencukupi karena banyak disalahgunakan (dikorupsi). Hal ini membuktikan bahwa pengetahuan dan kesadaran atas pentingnya pelestarian lingkungan hidup, baik di kalangan pejabat maupun warga masyarakat sangat rendah. Kebakaran hutan reboisasi diduga ada unsur kesengajaan untuk mengelabui reboisasi yang tidak sesuai ketentuan (manipulasi reboisasi).
5. Meningkatnya Penduduk Miskin dan Pengangguran. Bertambah banyaknya penduduk miskin dan pengangguran sebagai akibat dari pemulihan krisis ekonomi yang hingga kini belum berhasil serta adanya kebijakan ekonomi pemerintah yang tidak populis seperti penghilangan subsidi untuk sebagian kebutuhan pokok rakyat, peningkatan tarif BMM, listrik, telepon dan lain-lain, merupakan faktor pemicu sekaligus pemacu perusakan lingkungan oleh penduduk miskin di pedesaan. Gejala ini juga dimanfaatkan oleh para spekulan penduduk kota untuk bekerja sama dengan penduduk miskin pedesaan. Sebagai contoh mengalirnya kayu jati hasil penebangan liar dari hutan negara/perhutani ke industri meubelair di kota-kota besar di Pulau Jawa, sebagai satu bukti dalam hal ini. Peningkatan jumlah penduduk miskin dan pengangguran diperkirakan akan memperbesar dan mempercepat kerusakan hutan/lingkungan yang makin parah. Hal ini merupakan lampu merah bagi masa depan generasi kita.
6. Lemahnya Penegakan Hukum. Sudah banyak peraturan perundangan yang telah dibuat berkenaan dengan pengelolaan lingkungan dan khususnya hutan, namun implementasinya di lapangan seakan-akan tidak tampak, karena memang faktanya apa yang dilakukan tidak sesuai dengan peraturan yang telah dibuat. Lemah dan tidak jalannya sangsi atas pelanggaran dalam setiap peraturan yang ada memberikan peluang untuk terjadinya pelanggaran. Di pihak lain disinyalir adanya aparat penegak hukum yang terlibat dalam sindikat/mafia perkayuan dan pertambangan telah melemahkan proses peradilan atas para penjahat lingkungan, sehingga mengesankan peradilan masalah lingkungan seperti sandiwara belaka. Namun di atas itu semua lemahnya penegakan hukum sebagai akibat rendahnya komitmen dan kredibilitas moral aparat penegak hukum merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap semakin maraknya perusakan hutan/lingkungan.
7. Kesadaran Masyarakat yang Rendah. Kesadaran sebagian besar warga masyarakat yang rendah terhadap pentingnya pelestarian lingkungan/hutan merupakan satu hal yang menyebabkan ketidakpedulian masyarakat atas degradasi lingkungan yang semakin intensif. Rendahnya kesadaran masyarakat ini disebabkan mereka tidak memiliki pengetahuan tentang lingkungan hidup yang memadai. Oleh karena itu, kini sudah saatnya pengetahuan tentang lingkungan hidup dikembangkan sedemikian rupa dan menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah umum mulai dari tingkat SD. Hal ini dipandang penting, karena kurangnya pengetahuan masyarakat atas fungsi dan manfaat lingkungan hidup telah menyebabkan pula rendahnya disiplin masyarakat dalam memperlakukan lingkungan sesuai peraturan perundang-undangan dan kaidah-kaidah iptek lingkungan hidup.
8. Pencemaran Lingkungan. Pencemaran lingkungan baik pencemaran air, tanah maupun udara justru di era reformasi ini terutama di Pulau Jawa semakin memprihatinkan. Disiplin masyarakat kota dalam mengelola sampah secara benar semakin menurun. Banyak onggokan sampah bukan pada tempatnya. Para pelaku industri berdasarkan hasil penelitian tidak ada yang mengelola sampah industri dengan baik. Sebanyak 50% dari 85 perusahaan hanya mengelola sampah berdasarkan ketentuan minimum. Sebanyak 22 perusahaan (25%) mengelola sampah tidak sesuai ketentuan bahkan ada 4 perusahaan belum mengendalikan pencemaran dari pabriknya sama sekali.
Pencemaran udara semakin meningkat tajam di kota-kota besar, metropolitan dan kawasan industri. Gas buangan (CO2) dari kendaraan yang lalu lalang semakin meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah kendaraan itu sendiri. Dengan diproduksinya kendaraan murah (Toyota Avanza dan Xenia) yang dijual secara kredit, akan menambah lonjakan jumlah kendaraan, hal ini akan menambah kemacetan lalu lintas di kota besar. Dampaknya akan terjadi lonjakan tingkat pencemaran udara yang luar biasa.

Ketersediaan dan Kelangkaan Air
